SOREM / INFESTIS – Split Album
Roh Jahat Production | CD

Dua band berbagi durasi dalam album split dua negara, Sorem dari Indonesia dan Infestis dari Belanda. Karakter yang jauh berbeda, penyampaian konsep yang juga bertolak belakang satu sama lain tetapi masih bisa ditarik satu garis hitam, yaitu Black Metal. Saya baru mendengar informasi mengenai Infestis, sang penebar kegelapan dari Belanda, ketika disodori album split ini untuk direview. Tetapi saya cukup sering melirik Sorem, black metal yang cukup berkarakter dari tanah Jawa, tepatnya Probolinggo, Jawa Timur.

Atmosfer dingin dan gelap terasa pekat dikedua lagu bertempo cepat, Ngadhara Daghing dan Tenggerian Spirit. Ngadhara Daghing yang berarti mendarah daging dalam bahasa Madura, merupakan lagu yang cukup filosif mengenai pencapaian dan pencarian dalam hidup. Dengan tempo yang perlahan melambat ditengah lagu dan selanjutnya diberondong lead gitar sadis tanpa basa basi membuat lagu ini begitu berisi dan gurih ditelinga. Kasar, mentah, dingin dan bengis tanpa ampun.

Mendengar musik Sorem bagaikan sebuah perjalanan ke gunung Bromo dini hari atau menjelang subuh pada saat bulan purnama. Dengan segala ambience gelap, hening, sinar purnama yang magis dan udara dingin yang menusuk tulang. Sound gitar kering dan mengawang yang memberikan atmosfir dingin dan muram pada lagu Moksa cukup membuat kita bergidik. Tak sabar menunggu album penuh mereka.

Infestis, koloni black metal dari Belanda yang secara vulgar mengumbar kesinisan terhadap agama-agama monoteistik. Mereka menggelontorkan empat lagu yang diambil dari album Requiem For The Age Of God. Sebuah album penuh yang dirilis dan didistribusikan sendiri oleh mereka di tahun 2013.

Ketukan drum yang kompleks dan menderu diiringi riff gitar yang cepat menyayat, ditingkahi rhytm gitar yang membuat ambience yang diciptakan semakin mencekam. Ditengah tempo ultra cepat yang tersaji, Infestis menyisipkan petikan gitar dengan backsound hujan yang mistis dan tetap masih dengan aura dingin dan gelap. Seperti pada track Prelude yang merupakan jeda selama 1 menit 27 detik seolah susunan lagu tersebut membentuk sebuah alur cerita dan ada bagian cerita yang akan memasuki sebuah babak baru yang selanjutnya di medley dengan aransemen megah dan agresif, It Will End.

Banyak rilisan black metal baik luar maupun lokal yang cukup berkualitas akhir-akhir ini. Tak ada salahnya meluangkan waktu sejenak untuk menyimak album split ini jika kalian suka menggali akan sesuatu yang masih dibawah pantauan radar atau dengan kata lain underrated. Satu kekurangan dari album ini adalah rasa tidak puas. Setidaknya album ini bisa menjadi hidangan pembuka sebelum mendengarkan Infestis, Requiem For The Age Of God secara penuh atau mendengar rilisan album penuh Sorem yang telah menggelapkan langit di 2016 ini.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here