NEUROSESICK – Sic Semper Tyrannis
Alaium Records | Cassette

Neurosesick, pengusung hardcore punk yang heavy, crusty dan gelap dari kota Malang yang bisa dibilang tahan banting. Kenapa tahan banting? Bongkar pasang personil sudah kenyang dialami oleh band ini, vakum tak jelas tanpa arah, berubah genre dan selanjutnya bangkit dengan 80% personil baru, arahan musik yang baru dan tentunya album baru.

Sic Semper Tyrannis adalah mini album yang rilis setelah debut album penuh mereka, Refuse Resist Exist. Berbeda dengan album pertama, di mini album ini, Neurosesick membuat sebuah album konsep. Album konsep cukup jarang ditemui di skena hardcore punk akhir-akhir ini. Dan mereka sudah cukup sadar dengan resiko yang akan mereka hadapi nantinya, yaitu proses panjang untuk penentuan alur cerita, sudut pandang, konsep, aransemen dan segala tetek bengek lainnya. Sudah pasti menguras pikiran dan tenaga.
Mengusung cerita tentang konflik lahan yang tidak terlalu klise dengan hanya lagu berisikan protes, tolak atau anti ini itu, mereka mencoba untuk berperan seoalah burung kondor, mengamati dari udara, menunggu korban, mendecak sinis, atau mengamati dengan sorot mata tajam menunggu siapa yang akan terjatuh dahulu dan menjadi bangkai. Dengan kata lain, mereka mencoba melihat dari berbagai sudut pandang, dari setiap titik yang layak eksplor.

Bercerita tentang korban atau penduduk yang mati-matian mempertahankan lahan pada lagu Gugat Kuasa Manunggal dan Terungku. Pada lagu Terpasung Sumpah, mereka bercerita tentang ketidakmampuan militer untuk menentukan sikap. Mereka yang seharusnya menjadi pelindung malah tunduk dibawah kuasa pemodal. Penggalan lirik yang menurut saya cukup menarik adalah “Lantang Teriak Antara Hidup dan Mati, Tak Bergeming di Balik Tameng Besi, Menitik Air Mata Tak Berdaya di Balik Helm Baja”. Tak ada yang tahu raut muka seperti apa di balik helm yang mereka kenakan. Rasa tak tega ataukah nafsu buas merajalela?

Selain itu mereka juga menyoroti keangkuhan sang pemodal pada lagu Petaka Neraka dan Puing. Teriakan lantang “Atas Nama Peradaban Atau Ambisi” diteriakkan berulang-ulang dan diujung lagu berakhir dengan kata “Ambisi” sebagai penggambaran bahwa Peradaban hanyalah pengalih perhatian sehingga membuat Ambisi Personal terasa lebih lembut dan mudah diterima semua orang. Dan pertanyaan utama pada lagu Petaka Neraka terjawab klimaks pada Puing dengan refrain “Peradaban Hilangkan Budaya, Euforia Pemodal Kuasa”. Sebuah pernyataan telak dan tak terbantahkan.

Cerita dengan tiga sudut pandang dipaparkan secara gamblang dengan lirik yang kesemuanya bahasa Indonesia dalam 6 lagu, termasuk 1 lagu instrumental. Lirik yang digarap apik dan dengan pemilihan kata yang tidak terlalu rumit untuk dipahami, terkesan lugas dan langsung pada intinya tanpa basa-basi. Mereka juga turut mengundang Daniel Mardhany dari Deadsquad untuk mengisi vocal pada lagu Terpasung Sumpah dan Petaka Neraka.

Ada perkembangan, pasti tidak luput dari kekurangan. Kelemahan album ini justru kenapa album konsep hanya menjadi sebuah mini album? Padahal masih banyak konflik, cerita dan aransemen yang bisa dieksplorasi lebih mendalam lagi. Apakah karena mereka sudah kehabisan energi dengan proses pembuatan album ini? Ataukah kutukan pergantian personil yang kembali menghantui? Karena pada proses recording mini album ini, mereka menggunakan 2 drummer. Materi yang seharusnya padat dan komplit menjadi menyisakan tanya dan membuat kita untuk ingin mendengar yang lebih lagi dari sesi yang singkat ini.

Secara keseluruhan, Sic Semper Tyrannis merupakan sebuah usaha luar biasa dengan pencapaian melebihi album pertamanya. Memang hasil recording belum bisa terbilang maksimal dan masih jauh dari kata sempurna. Tetapi mereka tangguh untuk menancapkan tonggaknya, menarik garis, menunjukkan konsep seperti apa yang ingin mereka mainkan dan sampaikan. Album yang diproduksi pada masa masa sulit mereka dalam sebuah band, pergantian personil, kejenuhan, semuanya terbayar lunas melalui album ini. Rilisan hardcore punk yang layak disimak di tahun 2015.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here