foto ilustrasi: www.metal-hammer.de

Satanisme dan perilaku yang tercakup di dalamnya adalah hal yang selalu dikaitkan dengan musik Black Metal hingga saat ini. Entah siapa yang memulai, namun masyarakat bawah tanah seolah percaya saja tentang pengultusan itu. Seolah terjadi penyeragaman ide bahwa menjadi musisi Black Metal itu haruslah seseorang yang Anti Tuhan.

Ujung-ujungnya banyak masyarakat awam mencibir dan menganaktirikan musik Black Metal hingga seolah tidak layak didengar dan dikemukakan pada khalayak. Singkatnya, apakah semua musisi Black Metal haruslah manusia yang satanis, atau haruskah semua penganut satanis memainkan musik Black Metal? Bagaimana bila ada seorang dukun santet yang kerap mengandalkan bantuan dari makhluk supranatural dan menggemari musik Campur Sari, apakah dukun tersebut juga bisa disebut musisi ataupun penggemar Black Metal?

Atau misalnya, ada seorang musisi Black Metal lokal yang memilih untuk tidak beragama namun percaya akan adanya Sang Pencipta, apa orang tersebut bisa dikatakan sebagai seorang satanis?

Sejarah panjang Satanisme d­i wilayah Black Metal Indonesia tidak terlepas dari catatan pergerakan “Inner Circle” yang dipelopori Oystein Aarseth a.k.a Euronymous (Mayhem) sebagai orang nomor satu, dan Varg Vikernes a.k.a Count Grishnackh (Burzum) sebagai tangan kanannya. Bersama ke-12 anggotanya, termasuk Ihsahn, Samoth dan Faust (Emperor), serta Fenriz (Darkthrone), mereka memimpin komunitas Black Metal Norwegia melalui kelompok “Inner Circle”.

Gagasan mereka kemudian diwujudkan melalui serangkaian aksi anarkis. Di antaranya tindakan pembakaran terhadap belasan gereja kuno yang menjadi simbol kebanggaan Kristen di Norwegia. Aksi tersebut, sontak mendapat kecaman internasional. Maka dari sanalah, mereka mendapat label sebagai penganut Satanisme.

Kenyataannya, ideologi Satanisme yang dikembangkan di genre musik Black Metal di Norwegia, lebih mengacu pada semangat untuk mengembalikan budaya Pagan Kuno, termasuk kebangkitan budaya Viking. Artinya, Satanisme dalam konteks para prajurit logam hitam asal Norwegia ini, tidak sama dengan paham Satanisme ajaran Anton LaVey melalui Church of Satan-nya.

Masalah muncul di Indonesia, ketika terjadi pencampuradukkan ideologi Satanisme antara ajaran yang dikembangkan Anton LaVey dengan ideologi Satanisme yang berkembang di genre musik Black Metal Norwegia. Terlalu banyak ahli tafsir yang berbuntut pada wujud kedangkalan berpikir.

Yang kami lihat, para musisi Black Metal yang mengaku sebagai Satanis di Indonesia, hanya mencomot sepenggal “aksi hebat” Vikernes dan kawan-kawan ketika mereka membakar belasan gereja sejak 1992, termasuk penyerangan terhadap band-band metal yang tidak sepaham dengan mereka, atau yang dianggap sebagai kelompok “Outer Circle”. Kemudian melakukan pengembangan, dengan menggabungkan hal tersebut dengan ajaran “Church of Satan”.

Padahal, ketika Vikernes ditangkap aparat atas kasus pembunuhan yang dilakukannya terhadap Euronymous (Mayhem), dengan tegas Vikernes mengatakan, dia bukan penganut Satanisme seperti yang dituduhkan banyak pihak. Tindakannya murni atas kesadaran diri, dan bukan karena terpengaruh ajaran “Church of Satan” Anton LaVey.

Dan yang perlu diketahui, Vikernes dan sebagian besar musisi Black Metal Norwegia adalah penganut paham fasisme sekaligus rasisme. Artinya, mereka akan melakukan perlawanan dengan apapun yang berkaitan dengan keagamaan di luar budaya mereka, yang non Norway-Gemanic.

Artinya, Satanisme dan Black Metal adalah dua wilayah yang berdiri secara terpisah. Jika kemudian Mayhem, Burzum dan Darkthrone di akhir 80-an dan awal 90-an menggabungkan Black Metal dan Satanisme sebagai satu ikatan yang kuat, terkait satu sama lain, maka garis bawahi tebal-tebal, bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebagai “way of life”. Bukan sekedar tempelan, dan diperjuangkan bukan tanpa alasan.

Termasuk aksi pembakaran salib di atas panggung, dan aksi lainnya yang terkesan seperti memuja setan. Sekali lagi, hal itu dilakukan sebagai bentuk pemberontakan mereka terhadap agama Kristen, dan bukan sebagai ritual penyembahan terhadap setan.

“Satanic itu visi. Mau dimunculkan atau tetap bertahan dalam hati, hal itu kembali pada kebijakan yang bersangkutan. Tapi menurutku, sebagai musisi, akan terlihat lebih bertanggungjawab jika hal itu dimunculkan dalam sebuah pesan lirik daripada sensasi murahan di atas panggung. Ini tidak ubahnya seperti badut yang mencoba menakut-nakuti, tapi berada di antara orang-orang dewasa, yang notabene harusnya dilakukan terhadap anak kecil,” jelas Eitaz, personel band Black Metal Jogja, Nosferatu.

Terakhir, sedikit tambahan bagi Anda yang mengaku sebagai penganut Satanisme. “Satanisme yang di-croping dan diperbandingkan dengan tindakan ritual darah di depan publik adalah tindakan yang sangat picik dalam memahami sebuah kepercayaan, dan cenderung melecehkan Satanisme itu sendiri,” urai tokoh Black Metal Solo, Shiva Ratriarkha.

Ide Vikernes dkk sederhana, menyatakan perang terhadap Kristenisasi yang terjadi di wilayah Norwegia. Ini karena Kristen, yang notabene merupakan agama mayoritas di Eropa, dinilai berbanding terbalik dengan semangat mereka sebagai anak-anak Odin (Dewa Bangsa Viking). Kristen dianggap sebagai agama yang lemah, sementara mereka sebagai keturunan Viking, adalah bangsa yang menjunjung tinggi kekuatan.

Di sini kami mencoba untuk mengupas tentang Black Metal secara singkat, dengan beberapa referensi yang dapat kami percaya, walaupun disertai dengan segala keterbatasan yang kami miliki.

Tujuannya tak lain adalah mengklarifikasi estetika dan esensi Black Metal itu sendiri, mencoba perlahan-lahan meralat dikotomi tentang Black Metal adalah Satanis yang tercipta selama ini, khususnya di Indonesia. Lebih dari itu, kami “menuntut” para musisi yang mengibarkan bendera Black Metal, agar dapat memberikan pertanggungjawaban atas genre yang dipilih itu.

Keberadaan Black Metal (sebagai genre) tak lepas dari nama Venom, band Heavy Metal yang berdiri di Newcastle, Inggris pada awal tahun 1980. Awalnya band ini banyak terpengaruh oleh konsep musik band-band macam Led Zeppelin, Black Sabbath dan Deep Purple.

Seiring perjalanan waktu, merekapun melakukan pendewasaan dalam konsep musiknya melalui penambahan tempo yang lebih cepat, distorsi gitar yang lebih bising dan perubahan pada karakter vokal.

Band yang digawangi Cronos, Mantas dan Abaddon inilah yang nantinya dipercaya oleh kebanyakan musisi Black Metal maupun musisi Non-Metal, sebagai band New Wave Of British Heavy Metal. Melalui album Black Metal yang dirilis pada tahun 1982, mereka diamini sebagai gelombang pertama dari lahirnya genre Black Metal.

Pada saat yang hampir bersamaan, para kampiun Metal di tempat lain juga mulai bermunculan. Sebut saja Bathory dari Swedia yang memulai debut albumnya di tahun 1984, Hellhammer dan Celtic Frost dari Switzerland, Mercyful Fate dari Denmark, Sodom dari Jerman, dan banyak lagi.

Kelak bergemanya Black Metal ditandai pula dengan lahirnya band-band Black Metal di Norwegia seperti Mayhem, Burzum, Dark Throne, Immortal dan Emperor. Mereka juga kerap disebut sebagai band Black Metal gelombang kedua.

Namun, perlu dicatat, mereka (grup band di atas), pada dasarnya menganut paham Satanisme sebagai ideologi dalam bermusik. Tidak salah jika akhirnya muncul stigma sempit bahwa musik Black Metal identik dengan Satanisme, atau perlawanan terhadap kepercayaan tertentu.

Mari bergeser ke Swedia. Di Negara ini, tidak sedikit grup band terinspirasi scene di Norwegia macam Marduk, Dissection, Dark Funeral, Lord Belial, Nifelheim dan Abruptum yang memiliki karakter dan konsep bermusik yang sedikit berbeda satu sama lain. Tak jauh berbeda kondisinya di Finlandia, banyak bermunculan pula band-band yang mengusung Black Metal seperti Beherit dan Impaled Nazarene.

Jika diperhatikan, para musisi dari negara-negara yang berlainan tersebut memiliki ideologi berbeda satu sama lain. Kecuali Mayhem dan Marduk yang menancapkan Satanisme sebagai ideologi bermusik, ternyata banyak band Black Metal yang tidak melulu berkutat di Satanisme.

Ideologi Nihilisme, Paganisme, Nasional Sosialis dan pemujaan terhadap dewa-dewa ala bangsa Viking juga mewarnai kancah musik Black Metal sepanjang perjalanannya. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor referensi yang cukup kuat yang membuktikan bahwa tidak semua musisi Black Metal menganut paham maupun gaya hidup Satanisme ataupun sebaliknya.

Sampai di sini, dapat kita tarik sebuah kesimpulan awal, bahwa sebenarnya genre adalah satu hal yang terpisah dari ideologi. Artinya, konsep musik sebuah band itu tidak mesti sama dengan konsep yang dipunyai band lain.

Sederhananya, Satanisme dan Black Metal adalah satu kesatuan terpisah yang berdiri sendiri-sendiri. Musisi Black Metal tidak secara keseluruhan mengusung konsep Satanisme seperti yang acapkali kita dengar dalam pembicaraan masyarakat umum di warung-warung kopi, toserba, restoran, kios majalah, yang menganggap bahwa Black Metal adalah musik sesat, asal bunyi, tak layak dengar dan setumpuk cibiran bahkan cacian dan hujatan keras lainnya terhadap musik ini.

Ambil contoh band yang mengusung konsep Pagan Black Metal. Bisa dikatakan bahwa band tersebut adalah orang-orang penganut Paganisme yang memainkan musik Black Metal, atau bisa juga dikatakan sebagai musisi Black Metal yang membawakan ideologi Paganisme. Sangat jelas bukan, bahwa tidak ada kaitan dengan Satanisme sama sekali di sini.

Di lain pihak, apa pernah ada yang bisa membuktikan para penganut paham satanis macam Ku Klux Klan maupun sekte-sekte sesat lainnya, adalah penggemar musik Black Metal, ataupun sebaliknya?

Khusus di Indonesia, tahun 1995 menjadi cikal bakal berkembangnya Black Metal, yang dipioniri Makam, Ritual Orchestra, Dry. Patut diingat, mereka masih eksis dalam karya dan jalurnya hingga saat ini.

Berkembangnya Black Metal sempat dibumbui dengan hal-hal “lucu” dan kontroversial yang membuat musik Black Metal malah divonis sebagai musik sesat. Misal, penyembelihan kelinci di atas panggung, pembakaran dupa dan kemenyan, dan hal-hal lain yang cukup mengundang sensasi juga membuat bulu kuduk bergidik.

Djiva Ratriarkha dan Julius Kamadathu dari band Makam pernah mengomentari hal ini dan menyikapinya dengan sangat bijak. Menurut mereka, dupa, kemenyan, setanggi dan ratus plus make-up horor memang fenomenal dalam sejarah black metal di tanah air. Ini baik, jika memang euforia ingar-bingar penampilan itu dilanjutkan dalam pola pikir dan attitude para pelakunya untuk mau belajar dan memahami filosofi tentang menjadi seorang pribadi Black Metal.

Kesepakatan senada tentang fenomena itu juga datang dari Throne ‘Ritual Orchestra’, Lord Morgan ‘Dry’, Vaar Mossath ‘Immortal Rites’, juga Van Dark ‘Thirsty Blood’. Mereka meyakini bahwa adanya ritual itu tidak selalu berkaitan dengan apa yang ingin disampaikan dalam musik Black Metal.

Sudah saatnya, para penggiat Black Metal membekali diri dengan kematangan konsep dan keluasan wawasan sebagai bentuk pertanggungjawaban dalam menyampaikan visi dan misinya.

Proses pembelajaran dan pendewasaan dalam konteks Black Metal sangat perlu dilakukan dengan berkesinambungan, sehingga nantinya akan mengikis pemikiran tidak penting yang menempel lekat di balik jubah besar Black Metal. (GRIMCORPSE)

sumber: Gerilya Magazine #13/2015

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here