Armand Boyd (DISEMBOWEL RECORDS)

    Well, sebelumnya saya ingin berterima kasih atas waktu dan kesempatan yang diberikan oleh Edelwiess Prods dan Gerilya Magazine Team, untuk saya berbagi cerita cinta, pengalaman sekaligus sedikit pengetahuan saya untuk berbagi bersama,  tentu saja dalam hal ini musik metal Underground dan perkembangannya, setidaknya perkembangan menurut kisah kasih selama yang saya alami J.

 

Mungkin dari sekian banyak kata yang ada dan indah di dunia ini selain kata cinta adalah kata “Musik”. Musik adalah sebuah kata yang paling ajaib yang pernah ditemukan manusia, yang saya sendiri kurang paham definisi kata “Musik” itu apa… mungkin kata benda, kata kerja atau kata sifat… ahahaha !!! bagi beberapa orang, musik adalah hal biasa, sesuatu yang tidak penting yang hanya dimanfaatkan untuk mengisi waktu luang atau apapun itu namanya ada dan tidak adapun bukan masalah. Tapi bagi saya, musik adalah nafas dan kebutuhan saya selain “makan”… karena telinga saya juga perlu “makan”… musik adalah hal penting, musik adalah bentuk kepuasan, sebuah penyambung rasa, pesan, seni, budaya, agama bahkan bisnis dan peluang usaha paling kreatif yang pernah ada, bayangkan dari satu instrumen gitar mampu menciptakan jutaan simfoni mulai dari yang lembut hingga yang keras. Bayangkan saja hidup tanpa musik…. !!!

Sekarang Pertanyaan saya “dimanakah arti musik bagi kalian ?”

Ini baru masalah arti musik bagi saya pribadi dan kalian, bagaimana dengan jenis musiknya. Seperti kita tahu bahwa kehidupan dipenuhi beranekaragam budaya, manusia hingga binatang begitu juga musik, setiap orang suka dan memilih jenis musik yang pas dengan hatinya dan apapun itu pasti ada namanya… dan bukan kebetulan saya menyukai satu jenis musik, satu jenis musik yang paling menarik yang pernah diciptakan dan merupakan keturunan dari jenis musik rock yaitu “Metal”.

Well, bagi sebagian orang jenis musik ini paling dihindari dan bahkan dibenci, kenapa? Sebab “katanya” musik metal itu ga jelas, berisik, gendeng, teu puguh, musik setan, musik orang stress, anarkis dan banyak negatifnya. Ya menurut saya itu penilaian wajar karena mereka memang tidak mengenal jenis musik ini. Saya rasa kalian semua hapal dengan pepatah “tak kenal maka tak tahu …” ahahah, kalau tidak salah begitulah pepatahnya. What the F*ck-lah kata mereka yang pasti dari jenis musik seperti inilah saya tahu kenapa sesuatu yang sulit itu dibenci sekaligus dicintai seseorang.

Seingat saya menjelang akhir era 80-an, saat itu saya masih SMP…  anak-anak muda ABG sedang mengalami demam musik thrash metal seperti Metallica, Slayer dan Sepultura. Sebuah perkembangan style musik metal yang lebih ekstrem lagi dibandingkan musik rock. Dilanjutkan pada pertengahan 90-an, saya mulai melirik yang namanya death metal dan mencoba mencerna Obituary, Deicide, Brutality dll …ahhhh semua memori indah mengoleksi kaset. Tidak lupa juga bahwa di Indonesia saat itu mengalami perkembangan komunitas metal  dan istilah “Underground” belum popular, banyak band lahir dan sempat saya miliki kasetnya meskipun sekarang hanya beberapa yang tersisa. Band-band lokal yang meramaikan scene saat itu seperti Roxx, Sucker Head, Rotor, Tengkorak, Grausig, Betrayer, Brutal Corpse, Jasad, Trauma, Rotten Corpse, Death Vomit, Motor Death, Disinfected, Bloody Gore, Vile, Injected Sufferage, Keramat, Sadistis, Cemetery dan masih banyak lagi, sedikit saya tahu meskipun mayoritas dari band tersebut rekam lagu mereka secara live, atau biasa disebut live recording atau bahkan semi recording.

Mayoritas dengan kecintaan hobi yang besar namun budget yang kecil mampu menghasilkan fisik sebuah musik yang diimpikan dan jelas hal ini jauh dari apa yang terjadi di era sekarang. Pengalaman saya menyukai sekaligus mengoleksi kaset-kaset metal ini berkembang hingga akhirnya saya mendirikan sebuah label Indie pada Juli 2000 yang saya beri nama Disembowel Records, dan di era sebelumnya, pertengahan 90an, beberapa teman yang sudah dahulu membentuk indie label seperti Extreme Souls Production, Edelweiss Prod, Demented Mind Recs, Morbid Noise Prods, Graveyard Prods dll, meramaikan dan menyuguhkan kita berbagai band-band Underground lokal saat itu, terutama Edelweiss Prods., yang saya ingat saat itu salah satu label yang fokus terhadap perkembangan band Underground Indonesia.

Lalu pada angkatan yang sama, yang dikenal era millennium (2000) beberapa indie label lahir dengan membawa karakter masing-masing seperti Rottrevore Recs., Stillborn Sounds, Undying Music, Arrack Recs, Necrobalsting ent dll ..meskipun tidak banyak yang mampu bertahan hingga sekarang. Dan satu hal yang menjadi perhatian saya dari dulu hingga sekarang, bahwa banyak band yang lahir dan tanpa menghasilkan karya musik secara fisik… ya, lagi-lagi masalah “classic forever” seperti dana adalah aralnya, mungkin tiga poin ini menjadi perhatian saya:

  1. Cetak kaos dulu atau rekam demo dulu?
    2. Cetak kaos dulu buat modal bikin demo “modalnya sudah ada namun lupa bikin demo akhirnya ga pernah ada demo”?
    3. Rekam Demo dulu atau kalau mungkin langsung full album, kaos nanti juga banyak tawaran dari merch label?

Hmmm, atau mungkin sebuah merchandise menjadi tolak ukur sebagai pengakuan metalhead? terkadang hal itu membuat saya prihatin. Di era sekarang sebuah band akan berkembang cepat lewat merchandise, menyukai artnya tanpa mengetahui musiknya seperti apa dan setelah menyadari ingin tahu dan penasaran dengan musiknya, barulah dicari CD atau kasetnya, andaipun tidak ingin tahu musiknya bagaimana kemungkinan karena memang belum sadar, namun semua dikembalikan pada penilaian masing-masing dan tujuan utama saat band tersebut dibentuk… atau mungkin harus menunggu waktu hingga tidak ada record label yang mampu bertahan dan saat itulah pertanyaan ini akan kembali, “musiknya band anu seperti apa ya?” atau ”kita membentuk band untuk apa ya?”. Musik metal bukan musik yang mampu didengarkan semua orang, berbanggalah menjadi bagian dari hal yang luar biasa… dukunglah musiknya secara fisik, siapapun mampu bergaya metal namun tidak semua yang mampu mendengarkan musiknya …mungkin itu sepenggal kalimat yang mampu memberi semangat untuk tetap berkarya, karena kita tahu bahwa komunitas Undergorund di era 90-an adalah sebuah komunitas yang sulit dibangun dan bahkan kepercayaan adalah modal utama antar individu, media bahkan label hingga ada istilah “by hand” atau “hand to hand”, bermodalkan surat menyurat hingga handphone pun hanya bisa sms dan telepon. “Kepercayaan” itu yang sedikit pudar dan bukan hal yang mudah ditemukan sekarang, meskipun internet sangat mudah di akses dimanapun dan kapanpun, bahkan mulai kamar mandi hingga tempat tidur.

Ohhh Hell Fukkennn Yesss, era internet juga mempunyai banyak nilai plus and minus, selain mempermudah mengakses info, berita terupdate kapan dan dimanapun. Peranannya mampu memperluas komunikasi antar relasi metal mancanegara dalam hitungan detik, yups bahkan hingga promosi, bisnis dan lain sebagainya dalam waktu singkat, terutama dengan adanya yang kita sebut socmed (social media), entah itu Facebook, Twitter, Instagram dan meskipun MySpace sudah tidak lagi ngtrend yang pada umumnya diperuntukan bagi band. Bagaimanapun setiap perkembangan mempunyai nilai positif dan tidak terlepas negatifnya pun ada, saya sebut saja era digital, hal ini bagi saya pribadi tidak lebih hanya sebagai hiburan dan tidak menumbuhkan rasa bangga, cinta dan sayang terhadap fisik sebuah musik, bagaimana bisa tumbuh rasa yang saya sebutkan tadi? Bagaimana sebuah format mp3 bisa berdebu yang akhirnya saya bersihkan dengan sehelai kain atau bagaimana sebuah format digital bisa saya tata rapih diatas rak saya, yang setiap kala rasa jenuh tiba bisa saya perhatikan begitu indahnya tumpukan kaset, CD atau vinyl itu bertenggar dan menantang kuping saya dan membuka cover atau bookletnya agar saya memahami musik yang dimainkan dan bagaimana rasa penasaran tumbuh saat menunggu paket datang berisi fisik itu untuk segera diputar pada player saya, digital tidak bisa mewakili kepuasan tersebut.

Tidak akan ada habisnya mengikuti pekembangan technology, digitalisasi global sangat mudah dicerna dan tanpa kita sadari secara bertahap telah menggeser industri musik fisik dan jawaban dari semua itu adalah diri kita sendiri. Membuat musik bukanlah hal mudah, mulai dari arransemen, lirik hingga membentuknya dalam kemasan yang dibuat semenarik mungkin. Musik diciptakan dan dibuat untuk kita dan semestinya kita tahu bagaimana menghargai dan mempertahankannya.

 

sumber: GERILYA MAGAZINE #12

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here