Immense akhirnya berhasil mengakhiri penantian panjangnya untuk memiliki dokumentasi karya berupa satu full album dengan format cakram padat (CD).

Ya, sejak kali pertama berdiri pada Agustus 1998, band asal Cilandak, Jakarta Selatan itu selalu mengalami tembok besar untuk menelurkan full album perdananya.
Namun, setelah memasuki tahun ke-17 sejak kelahirannya, band yang kini dihuni trio Danny (gitar), Erman (drum), dan Fahmi Bleeding (vokal) bisa bernafas lega, pasalnya mereka mampu melemparkan album perdana mereka di tengah ingar-bingar musik underground, khususnya death metal tanah air.
Ternyata cukup kompleks masalah yang pernah dihadapi Immense dalam perjalanannya, termasuk dalam melahirkan album yang telah dinantikannya. 16 tahun lebih tentu bukan waktu yang singkat buat mere ka untuk merilis album. Krisis personel menjadi salah satu rintangan terbesar buat Immense dalam mencetak debut album.
Kendati demikian, dengan semangat yang gigih dan pantang menyerah, Immense akhirnya mampu merampungkan album perdana mereka yang bertajuk «Suffering Insane» dan dirilis pada November 2014.
Yuk kita blasting langsung aja interviu Gerilya Magazine dengan trio Immense terkait bagaimana Immense terus berjuang untuk tetap eksis sejak kali pertama dilahirkan pada 1998 dan bagaimana mereka akhirnya berhasil merampungkan album perdananya tahun lalu? Serta sejumlah cerita-cerita menarik lainnya dari band ini?

Halo, selamat malam teman-teman Immense?
Immense: Halo, malam juga mas….
Bisa diceritakan secara sejarah terbentuknya Immense?
Danny: Immense berdiri tahun pada Agustus 1998. Pertama bertiga personelnya ada tiga, drummer dari Bintaro, saya ama satu personel lagi. Dengan formasi itu, bertahan sekitar dua tahunan. Selama dua tahunan itu sempat bikin lagu, ada lima lagu.

Selama perjalanan dari lahir sampai sekarang sudah menelurkan apa saja nih?
Danny: Pada awal-awalnya pernah bikin EP cuma untuk kita-kita saja (kalangan terbatas), belum sampai album, dan (ketika itu) berharap bisa bikin satu album full. Pernah ikut kompilasi-kompilasi juga, salah satunya Gerilya Underground 1 -kalau tidak salah itu kompilasi dari Surabaya, sekitar tahun 2000-an.

Sekarang kan udah formasi baru, dan dengan personel-personel baru ini berhasil membuat album. Nama album perdananya ini apa dan proses pengerjaannya berapa lama?
Danny: Pengerjaan album itu sekitar satu bulanan. Awalnya di Cibubur, karena ada alasan teknis, akhirnya kita pindah studio di Cawang, untuk pengerjaannya itu. Ada terdapat delapan lagu.

Artwork cover digarap siapa?
Danny: Bapak Erman (drumer) itu yang ngerjain. Artworknya semuanya… heheheee….

Kebanyakan lagunya bercerita tentang apa saja?
Danny: Sosial….
Erman: Sosial seperti kejadian perang Israel-Palestina, terus tentang keadaan kehidupan di dunia, terus keadaan sosial, ekonomi, politik di Indonesia. Jadi ada juga beberapa judul lagu yang kita adopsi dari keadaan-keadaan sosial yang ada.

Dari situ pesang yang ingin disampaikan itu apa?
Erman: Berkutat di sisi kemanusiaan… kita sebagai manusia tersadar dengan keadaan lingkungan yang ada, contoh seperti peperangan yang ada di Palestina, itu sendiri kan perang yang terjadi dalam kurun waktu yang panjang, di mana penderitaan-penderitaan dari rakyat Palestina sendiri belum berakhir juga sampai sekarang.
Kita ingin membangkitkan kembali kesadaran setiap individu yang ada di Indonesia ini untuk mungkin bisa membantu dalam bentuk apapun, maksudnya tidak harus dengan tenaga –kita enggak harus berangkat ke Palestina ya. Bisa saja memberi bantuan dengan berupa sumbangan, donasi-donasi yang kita titipkan pada suatu badan-badan tertentu untuk mereka rakyat Palestina di sana.
Terus untuk keadaan-keadaan politik, ekonomi, sosial Indonesia ya…sekarang posisinya Indonesia ya juga banyak permasalahan dari segi politik. Transisi kepemimpinan, juga pemerintahan sebelumnya -pemerintahan Pak SBY enggak rapi–, masih ada cacatnya yang di situ bisa kita lihat. Di situ kita membuat satu pesan, supaya jangan sampai kehidupan kita itu terusik dengan keadaan politik yang sebenarnya kehidupan kita itu lebih penting daripada hal-hal yang seperti itu.
Untuk rilis album, pihak mana ini yang ngerilisin? Atau ngerilis sendiri?
Erman: Untuk album Immense ini bertajuk Suffering Insane… Jadi Suffering Insane itu kalau diindonesiakan artinya penderitaan tanpa batas, pengorbanan yang sia-sia. Kebetulan kita proses (pembuatan albumnya) bersamaan dengan memanasnya perang Israel-Palestina, sehingga kita angkat peperangan Israel-Palestina itu.
Terus untuk albumnya sendiri itu berisi delapan lagu, masa pengerjaannya sebulan ya satu bulan. Kemudian kita pakai dua studio, pertama kita pakai studio TMS di daerah Cibubur, sebelum kita pakai studio Akar Liar di daerah Cawang. Lalu untuk proses mixing dan mastering dilakukan oleh [vio] Banders, yang dipegang oleh Benk-benk a.k.a Kurniawan Haryanto sama David.
Untuk urusan artwork, kebetulan Immense dibuatkan Erwin dari Burial Corpse -dua artwork Immense dibuatin Erwin-, dan untuk finishing-nya digarap David dari [vio] Banders.
Jadi untuk keseluruhan album perdana…Immense merilis sendiri, membuat sendiri, semuanya serba sendiri, dan untuk perjalanannya kita masih melakukan sendiri, karena kita masih belum ada label, jadi kita berdiri sendiri.

Distribusi albumnya sendiri sudah sampai ke mana saja?
Erman: Album sejauh ini… daerah Jawa sudah –Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur-, terus Sumatera -Palembang-. Dan yang paling jauh terakhir itu dari Kota Bima, NTB. Tapi untuk yang lain, Sumatera sih secara keseluruhan masih sampai Palembang.

Respons atau komentar dari metalhead terhadap album perdana Immense seperti apa?
Erman: Responsnya sih pasti ada respons positif maupun negatif. Responsnya yang negatif respons yang membangunlah buat kita, ini kan baru album pertama kita, pasti kita banyak kesalahan atau kekurangan yang terjadi, kita juga masih butuh bimbingan, belum banyak penyempurnaannya secara total. Jadi sejauh ini sih, kalau kita ambil secara global responsnya baik berarti positif. Mereka menyukai jenis lagu yang disajikan oleh Immense, juga menghargai hasil-hasil karya kita.
Tapi untuk bagian-bagian yang mengkritik, seperti mengkritik tentang penambahan pola efek, penambahan sound banyak juga. Mungkin mereka menginginkan kayak tren-tren jaman sekarang, soundnya lebih clean dan bersih. Mungkin Immense agak distorsi banget gitu ya, jadi enggak sebersih permainan anak-anak jaman sekarang.

Yang paling menggelitik adalah Immense sudah berdiri sejak Agustus 1998, tapi baru merilis album pada 2014. Ini prosesnya panjang banget, kenapa nunggunya hampir 17 tahun ya?
Danny: Karena waktu itu kita untuk mengerjakan album kita sempat krisis personel ya, jadi kita udah beberapa kali ganti personel, terus sibuk juga, personelnya ganti-ganti. Jadi kita untuk pengerjaan album dalam waktu itu (terkendala) kritis personelnya itu. Sementara lagu-lagu sudah ada, tapi tiba-tiba ada personel yang keluar, sehingga untuk melanjutkannya ditunda-tunda dulu, terus pada akhirnya bikin lagu baru lagi.

Dengan keluarnya album perdana ini, berarti formasi Immense yang sekarang ini udah solid ya?
Danny: Iya kita solid, mudah-mudahan kita tetap solid. Sekarang, kita juga mau memperkenalkan vokalis baru… Heheheheee…
Erman: Di Immense, kebetulan saya sendiri, sebagai drumer baru masuk sekitar 2012. Kurang lebih 2011 akhir atau 2012 awal lah saya baru masuk. Di situ yang saya tahu dengan saya, personel Immense hanya bertiga. Setelah bertiga, waktu itu sempat bassis lama Immense masuk, ikutan lagi, cuma enggak lama keluar lagi. Kita bertiga ini merasa ada yang kurang, jadi kita menarik person lagi untuk posisi bass sama vokal sebenarnya. Di sini kita memperkenalkan personel baru kita meskipun sebenarnya orang lama juga, namanya Fahmi Bleeding. Dia sebenarnya orang lama juga, jam terbangnya sudah kemana-mana baik di Jakarta maupun di Bandung, kebetulan bersedia untuk bergabung dengan Immense.

So, apa nih yang membuat mas Fahmi bersedia bergabung dengan Immense? Alasan utamanya apa?
Fahmi: Lebih ke sini… intern kita kan di scene Cilandak, itu kan buat saya pribadi enggak banyak, jadi Immense itu salah satu band yang mungkin jadi prioritas di Jakarta Selatan, khususnya di Cilandak. Scene kita jangan sampai tutup lah.
Selain itu, saya yang pasti lihat musiknya, buat saya pribadi itu begitu intens, dari awal berdiri sampai sekarang enggak pernah berubah. Grafiknya itu, dari level 60-an sampai ke 100 itu menanjak terus. Dan saya bangga buat bisa berada berkecimpung, dari dulu… saya ingat dari band awal saya dulu di Impious tahun 1998, jadi konsepnya lebih mirip kayak Impious, tapi ini lebih cadas lagi. Dan akarnya ya berkembang..lebih berkembang, dan saya lihat Immense prospek. Kalau kita lihat prospeknya itu udah worldwide bukan scene lokal lagi.
Kemudian kesibukan memang menjadi kendala, selain kerjaan, saya juga kan ada band Injected Sufferage di Bandung. Jadi saya pribadi, konsisten terus, arti kata ya kita sejalan, berkembang buat maju ke depannya. Untuk sekarang, kita lagi proses buat pengerjaan materi (album kedua), ya Insya Allah penginnya dirilis ama lokal dulu… Edelweiss Productions misalnya heheheee…. Ya mungkin juga bisa mendua lagi dengan Sevared Records… Insya Allah… atau yang lainnya… Saya intinya terima kasih buat Danny, Erman dan personel yang udah mendirikan Immense, kita tetap konsisten.

Dalam pembuatan album perdana ini, mas Fahmi terlibat juga atau tidak?
Fahmi: Saya hanya di belakang layar saja, mendoakan heheheee…..

Adanya pergantian vokal ini, apakah terdapat juga perubahan karakter yang drastis terhadap Immense?
Erman: Enggak… secara global enggak, jenis karakternya sih enggak… Jenis karakter vokalnya kita khan growl, jadi kategorinya growl, jadi secara signifikan enggak ada perubahan total, karena masih pada pattern-pattern-nya, jadi enggak perubahan secara signifikan dalam musik. Cuma, Immense yang sekarang, untuk ke depannya nanti, pengerjaan album kedua, akan lebih buas dibandingkan album pertama.

Rencananya untuk album yang baru gimana?
Erman: Untuk album yang baru, rencananya (Fahmi) harus sudah terlibat… Setelah mengikuti alur Immense dan tidak ada penolakan untuk tidak terlibat di album kedua 🙂

Promo album “Suffering Insane” selama dilakukan secara apa? Pemasarannya online atau konvensional?
Erman: Promo dan pemasarannya kita lakukan secara online, menggunakan Reverbnation, Twitter, Facebook, Path dan sosial media yang lain yang kita gunakan untuk promo. Kita juga mempromosikan di tempat-tempat (kota-kota) yang pernah dikunjungi (perform) Immense, seperti di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, kemudian juga di komunitas-komunitas yang masih mengenal Immense, di sana kita mempromosikannya.

Setau kami, Immense sedang melakukan negosiasi masalah album dengan orang luar, mungkin bisa di-share lebih detailnya?
Erman: Kebetulan itu di Facebook, ada pihak dari Jepang berminat dengan musikalitas Immense, di sini dia mencoba untuk… kalau dibilang menjual, kita belum tahu juga lah.. karena mereka menggunakan kata «trade», kita anggap mereka ingin memperdagangkan album Immense di Jepang, seperti itu…. Sedangkan untuk proses negosiasi dilakukan oleh Danny dan Fahmi, tapi kita belum ketemu (kesepakatan), kita masih proses negosiasi…

Yang diharapkan dengan orang Jepang itu sendiri apa?
Erman: Harapannya sih kalau buat saya sendiri, musik kita bisa dikenal di Jepang. Itu harapannya yang pertama…. Terus kita bisa mendapatkan suatu hasil dari musikalitas kita dari pihak Jepang, kalaupun mereka sampai ingin merilis, dan kita berharap bisa dirilis oleh mereka agar Immense bisa masuk ke pasar Jepang.

Untuk masalah pembajakan, apakah ada lagu-lagu Immense yang menjadi korban pembajakan?
Erman: Sampai sejauh ini sih yang kita alami… Alhamdulillah, belum… Karena pengerjaan album kita ini, kita kerjakan dengan CD (cakram padat) yang enggak bisa di-copy, kita sengaja bikin bentuk seperti itu. Terus untuk download gratis, baru di tahun ini, Immense memasukkan lagu terbarunya itu di Reverbnation, tapi untuk download-nya masih belum bisa, kita belum buka pen-download-an gratisnya untuk publik. Kalaupun ada orang yang memiliki lagu-lagu Immense, tapi tidak punya albumnya, itu berarti mereka adalah teman-teman dekat kita yang kita kasih secara gratis.

Untuk videoklip bagaimana, ada rencana mau bikin atau malah udah bikin?
Erman: Videoklip belum… Pemrosesannya personelnya sibuk, kalau (pihak) yang mau bikin udah siap, udah menanyakan berkali-kali juga. Untuk videoklip yang mau membuatkannya sudah ada, kebutuhan-kebutuhannya sudah ada, sementara personel-personelnya masih sibuk, kebetulan kami sudah berkeluarga semua, waktunya masih terpecah. Meskipun begitu keluarga kita semua men-support semua.
Oh ya, kalau ingin melihat aksi perform Immense bisa disaksikan di Youtube, ada beberapa video perform Immense. Kebetulan kita di acara Jombang Unhero Fest (Solidaritas Tanpa Sekat) 2013, sempat mendokumentasikan (video) perform Immense, jadi bisa dilihat di Youtube. –Apabila ingin menyaksikannya silakan searching «Immense» di Youtube–.

Ke depannya, selain pengerjaan materi baru untuk album kedua, apalagi yang hendak digapai oleh Immense?
Erman: Ke depannya sih, selain mengerjakan materi, kita menyelesaikan album kedua, harapannya kita ingin mendapatkan label, kita jadi lebih baik lagi, terus kalau bisa kita bisa main di daerah-daerah luar Jawa, seperti Sumatera, Kalimantan… Immense berharap bisa bermain full di Indonesia, agar (metalhead) Indonesia bisa mengenal kita… sambil menyelam minum air, kita bisa mendistribusikan album-album kita….

Sejak kali pertama berdiri pada 1998, apa yang membedakan Immense yang dulu dengan sekarang? Lalu apa yang berbeda antara Immense dengan band death metal yang lain?
Fahmi: Menurut saya, konsisten, style dan stabilitas Immense tidak berubah… Ya, banyak macamnya sih tapi butuh warna, boleh dibilang multidimensi.. tapi pada prinsipnya musik Immense konsistensi, dari brutal death seperti ini udah jarang di scene-scene lokal Indonesia. Kalau saya pribadi menilainya seperti itu. Buat ke depannya keep moving, kita bantai event-event sesuai dengan basic-nya Immense sendiri.. kita butuh juga support-support dari teman-teman semua. Ya, anti hujat… makanya sisi negatif sudah tidak artinya, kita buat berkembang ke depan…

Dengan kata lain, Immense sudah dikatakan menemukan jati dirinya?
Immense: Sudah….
Erman: Posisinya sekarang sudah banyak aliran-aliran musik yang lebih baik. Immense kan juga merasa pengin jadi lebih baik, dan pada akhirnya jati dirinya sudah bisa ditemukan. Untuk sekarang ini sih death metal, tapi pada perkembangannya ada yang orang yang mengkategorikan ini technical death metal, black metal murni, dan sub-sub yang lain. Tapi kalau Immense, dari Danny sendiri sebagai gitaris…. kalau menurut saya sih, keistimewaan Immense adalah, Immense sudah mempermainkan single stroke dalam lagunya, dia mempergunakan full blasting, jadi lagunya banyak dari segi blasting, dan temponya sih cukup cepat, enggak terlalu lambat. Jadi tempo-tempo lagu Immense sih menurut saya spesial, yang buat saya tertarik gabung Immense adalah kecepatan dari lagu, terus teknik permainan, dan juga mempergunakan banyak teknik menurut saya, dari blasting dengan sedikit improvisasi dan temponya lagunya enggak terlalu lama.

Kalau menurut mas Danny, sebagai personel yang paling lama tentu punya gambaran terhadap musik Immense. Apakah hingga saat ini sudah sesuai harapan atau masih belum?
Danny: Selama perjalanan ini, untuk saya kan membuat musiknya sudah sesuai harapan, harapan untuk bermusik Immense ke depan. Tapi karena masalah personelnya (yang awal tadi), pengerjaan album jadi tersendat-sendat…terhambat.
Fahmi: Kalau saya melihat, apabila seluruh lagunya benar-benar dijadikan, menurut saya, Immense mungkin sudah punya tiga atau empat album 🙂

Immense sendiri sempat vakum enggak sejauh ini?
Danny: Kalau vakum sih pernah, cuma enggak begitu lama. Karena sibuk kerja gitu aja, tapi kita masih tetap latihan, bikin album.

Apa kira-kira yang ingin dilakukan para personel untuk Immense dalam waktu dekat?
Danny: Immense sih ke depannya bisa lebih baik dari yang sekarang.
Fahmi: Untuk pengenalan album yang baru, pengin coba fokus dibikin tur.. pengin tur…. Ya saya baru join dengan Immense, tapi kita sudah lama kenal, sudah saling tahu, jadi saya menempatkan posisi saya, saya pengin balance dengan Erman sama Danny… dari masalah vokal, tunggu sajalah album kedua dari Immense.

Kalau pengin tur, entar membagi waktunya gimana? Karena udah punya kesibukan bekerja dan yang lainny?
Fahmi: Dari pengalaman dulu sebelumnya, ya kita akan bolos satu hari.. Jumat berangkat, masuk setengah hari, lalu kita kembali, istirahat paling Sabtu atau Minggu, kalau (perform) Sabtu lebih baik, karena Senin kita masih bisa kerja, tapi kalau Minggu, mungkin Seninnya kita bisa ambil off… Ya, kita harus mengatur waktu sebaik mungkin.

Penampilan paling mengesankan buat Immense itu ketika tampil di mana?
Danny: Semuanya berkesan, tiap tempat memiliki kelebihan masing-masing… Paling berkesan itu di mana ya, di Tuban… Di sana berkesan karena lebih santai, lebih nyaman… Antusias para metalheadnya sangat bagus…
Erman: Kalau saya sih, yang tidak terlupakan acara di Mojokerto Body Contact 5, sekitar awal 2013… Berkesan karena saya berangkat sendiri, mempergunakan pesawat, terus berpisah dengan teman-teman, saya juga harus pulang (ke Jakarta) sendiri.. Tapi yang paling berkesan karena pertama, acaranya besar…acara besar, kebetulan Mojokerto Body Contact 5 itu full, sold out tiketnya, waktu itu acaranya di GOR Majapahit, full penonton dari segala genre, dari sekitar Jawa Timur itu datang semua. Kebetulan saya di situ main juga pada akhirnya bertemu dengan band lama, pas Death Vomit. Enggak tahu mungkin Immense sudah sering bermain dengan band-band yang lebih memiliki nama besar, tapi untuk saya pribadi, karena saya masuk pada sekitar akhir 2011 atau awal 2012, bermain berbarengan dengan Death Vomit cukup membuat saya berkesan.

Terakhir, bagaimana masing-masing penilain personel Immense terhadap album perdananya ini? Sudah puas atau masih belum puas?
Erman: Kalau saya sih masih belum puas. Karena musik ini kan tanpa batas ya, masih banyak yang bisa kita gali, sesuai dengan nama Immense sendiri, yang maknanya luas tanpa batas, jadi batasan saya dalam bermusik ini masih ingin tereksplor lagi keluar. Untuk Immense sendiri jenis musiknya entah akan ada perubahan atau seperti apa, kalaupun ada perubahan, perubahannya ke arah yang lebih baik untuk Immense, karena kita harus berhasil mengerahkan semua kemampuan kita dalam bermusik yang akhirnya bisa menimbulkan suatu karya yang disukai masyarakat dan mewakili dari kemampuan kita masing-masing tanpa membuang-buang jenis lagu Immense itu seperti apa?
Album kedua juga masih proses, masih banyak ya… sejauh detak jantung masih berdetak, dan kita masih bernafas, otak masih bekerja… kreativitas.. Insya Allah enggak akan pudar…
Fahmi: Album (perdana) Immense sendiri harapannya multi sebenarnya… Kalau dikatakan masih belum puas ya pasti belum puas, pokoknya selanjutnya kita bikin lebih perfect aja..
Danny: Kalau saya, kalau bisa harus lebih baik lagi dari sebelumnya… ya mungkin ada sedikit perubahan, tapi bukan perubahan yang tidak terlalu drastis.. kita tetap seperti Immense yang dulum tanpa mengubah karakter…

Booking:
Erman (Drum): 081293701538 Danny (Guitar): 081290360602
Twitter: @immenseband

 

sumber: Gerilya Magazine versi cetak edisi #12 Februari 2015

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here