Logo Godlesson.
Logo Godlesson.

GerilyaMagazine.com | Indonesian metal band, Godlesson dibentuk di Semarang pada akhir 1997 dengan mengusung genre black metal. Lineup pada saat itu  adalah Dedy Black (vokal), Yudha (drum), Onggo (gitar), Suprex (bass).

Godlesson merupakan reinkarnasi dari band sebelumnya Godless, yang mengusung total black metal dengan lirik religius yang serba putih. Namun kini seiring  dengan pendewasaan diri, pada 2009 Godless berubah menjadi Godlesson dan berganti pakaian kebesaran heavy/progresive/symphonic metal dengan lirik-lirik  yang lebih universal, namun tidak jauh dengan aroma yang ditebarkan nama band ini….Ajaran Tuhan.

However, alasan mereka mengubah nama menjadi Godlesson dikarenakan ingin mengubah filosofi arti dari nama Godless (Tak bertuhan). Mereka menganggap  inilah cara paling bijaksana demi musik, band, masyarakat umum, serta tanggung jawab moril, dan berubahlah Godless menjadi Godlesson.

Godlesson hanyalah sebuah band yang ingin turut serta menyemarakkan panggung musik rock dan metal yang seolah telah ditinggalkan mulai akhir 90-an. Kini,  band ini dibentuk untuk mencoba membuka lagi nuansa rock-rock 80-90-an yang sedang bertapa itu, hingga pecinta rock masa kini tertarik untuk melirik kearah  kejayaan metal-metal seangkatan Power Slaves, Celcius, Scandal, Cleopatra dsb. Band ini dimotori oleh musisi yang tidak jauh dari era kejayaan musik rock saat  itu.

Berikut personel Godlesson saat ini:

Dhedi Black (vokal): Penyanyi band yang murni dipengaruhi segala macam aliran rock dan metal. Kiprahnya sangat dipengaruhi oleh gaya-gaya bernyanyi  vokalis-vokalis dunia seperti lengkingan overtone Rob Halford Judas Priest, vibrasi kental Michael Sweet Stryper, Falsetto King Diamond, bahkan growl ala  Glenn Benton Deicide, serta vokal scream ala Milles Petrozza Kreator dan raungan scream Dani Cradle Of Filth. Meskipun awal bernyanyi dimulai dari lagu- lagu pop tempo dulu, vokalis ini memutuskan untuk benar-benar berkiprah dikancah Heavy Metal.

Yudha (drumer): Personel yang paling lama bergelut dalam dunia musik rock dibandingkan personel yang lain. Permainannya banyak dipengaruhi oleh  permainan beat-beat band metal progressive mulai dar Rush, Loudness, Helloween hingga generasi terbaru setelah itu Dream Theater. Mengawali sepak  terjangnya dari band-band festival era 90-an seperti Galaxy, Vertigo, Fang Face dan Warrior. Semua teman band band, murid-murid sekolah drum serta penikmat  Godlesson memberi julukan bukan sekedar pemain drum, tapi ‘memperkosa’ drum.

Adhi (bassis): Musisi muda yang sebelumnya lebih cenderung memainkan progressive pop, namun setelah bergabung dengan Godlesson, dia mulai  menampakkan jati dirinya sebagai basis progressive metal. Kemampuannya terus diasah hingga skillnya tidak ketinggalan dan bisa mengimbangi permainan teman  satu grupnya yang lebih dulu berkiprah di dunia musik khususnya Heavy Metal. Permainannya sangat kuat dipengaruhi oleh musisi idolanya seperti John Myung,  Markus Grosskoft dan Billy Sehan.

Vikar (gitar): Sebagai personel termuda godlesson, Vikar merupakan seorang musisi yang sangat dekat dengan dunia Metal dalam nuansa Undergorund sejati.  Selain bergabung dengan Godlesson, dia juga masih aktif dengan band grindcore bentukannya Substorm. Skillnya juga terus diasah dan hal itu mendapat  dukungan yang kuat oleh lingkungan kerjanya sebagai seorang operator studio. Meski permainannya cenderung didominasi oleh gitaris-gitaris thrash metal  seperti Children Of Bodom, Sepultura dan Black Dahlia Murder, namun setelah bergabung dengan band inipun, dia mulai serius dengan irama power heavy metal  yang cenderung lebih progressive.

Damar (kibor): Satu-satunya personel yang paling kuat dalam mengubah corak musikalitas Godlesson seperti yang sekarang ini. Permainanya dipengaruhi oleh  keyboardist band-band power metal manca negara seperti Alex Stratopolli (Rhapsody), Jorn Ellenbourgh (Helloween), dan Jens Johannson (Yngwie &  Stratovarius). Kiprahnya dimulai dengan masuknya dia di band-band heavy metal Semarang sebelumnya seperti Lawang Sewu dan Panorama.

 

Taken from Gerilya Magazine #9

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here